Untukmu Bangsaku


Untukmu Bangsaku
“Saya tidak seperti kamu, Kaum akademisi.
Yang menggendong tas berisi buku-buku tebal,
Yang hilir mudik rumah-sekolah atau rumah-kampus dengan menghabiskan ongkos dari orang tua.
Saya bukan kaum intelektual.
Yang mampu berbicara mengeluarkan pendapat
Mengeluarkan setumpuk ilmu dari gunungan ilmu di kepala mereka.
Saya bukan kaum terdidik.
Yang mampu membela diri, mampu membela nusa bangsa dan tanah air.
Yang setiap hari bergaul dengan modernisasi dan globalisasi.
Saya bukan siswa ataupun mahasiswa
Yang setiap hari dicekoki ilmu dan pengetahuan
hingga ia… hingga ia mampu bicara dan berdiri tegak di zaman yang semakin mengguncang ini.”


Muak aku mendengar dan selalu mendengar ungkapan ini.
Tak sadarkah mereka, siapa mereka?
Tak sadarkah mereka akan status yang jauh baik dari sekedar aku,
seseorang yang tercatat sebagai siswa/mahasiswa, calon akademisi, calon kaum intelek.
tak sadarkah mereka atas apa yang mereka dapatkan, yang tak sekedar pengetahuan?
tak sadarkah mereka ketika mereka bekerja diluar sana,
apakah itu tanpa ilmu dan perhitungan?
tanpa didikan dan tujuan?
tanpa teknologi sebagai unsur globalisasi?
Apakah dengan alasan itu, lantas mereka acuh?
lantas mereka serahkan semuanya pada kaum terdidik di sebuah lembaga formal?



Tujuan pendidikan nasional
Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”


Oleh,
Riris Kharisma Dewi, mahasiswi S1 bahasa Inggris, Unsil

Postingan populer dari blog ini

Indahnya Akhlak Rasulullah

Sekilas Tentang Hujan Senja